Komitmen LPKR Membangun Rantai Pasok Berkelanjutan

12/11/25

Jakarta, 12 November 2025 - Sejalan dengan Agenda Keberlanjutan 2030, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), platform real estate dan layanan kesehatan terkemuka di Indonesia, terus memperkuat komitmen terhadap praktik bisnis yang etis dan bertanggung jawab melalui penerapan Kebijakan Pengadaan Berkelanjutan dan Kode Etik Pemasok di tingkat grup. Kebijakan ini menjadi pedoman bagi seluruh mitra dan pemasok dalam menjunjung tinggi etika, menghormati hak asasi manusia, menjaga keselamatan kerja, serta mendukung keberlanjutan lingkungan.

Langkah ini tidak hanya memperkuat tata kelola di sepanjang rantai nilai, tetapi juga mengurangi risiko hukum dan reputasi akibat potensi pelanggaran dari pihak pemasok. Setiap pemasok diwajibkan menandatangani Supplier Statement of Commitment sebagai bentuk kesediaan mereka untuk mematuhi Kode Etik Pemasok.

Proses ini diterapkan bagi seluruh mitra baru dan akan dilanjutkan secara bertahap untuk pemasok lama sesuai prioritas masing-masing unit bisnis. Bila ada pemasok yang menolak, penolakan tersebut harus disertai alasan tertulis yang jelas.

Prinsip utama LPKR meliputi etika bisnis dan persaingan usaha yang sehat, larangan perdagangan orang dalam, larangan pelecehan dan intimidasi, perlindungan hak asasi manusia dan ketenagakerjaan, kerahasiaan informasi, larangan suap, korupsi, dan praktik nepotisme, serta kepedulian terhadap lingkungan

Perusahaan juga terus menyempurnakan kebijakan dan proses pengadaan untuk memastikan ketahanan rantai pasok, efisiensi biaya, dan integrasi digital. Sejumlah unit bisnis telah beralih dari sistem berbasis kertas menuju solusi digital berbasis SaaS, serta memanfaatkan Google Forms untuk mempercepat komunikasi dengan vendor.

Pada tahun 2024, perseroan meluncurkan Vendor Visit Form sebagai alat untuk menilai kredibilitas dan keandalan vendor serta kontraktor. Langkah ini membantu mencegah risiko munculnya perusahaan fiktif dan potensi penipuan, sekaligus memastikan seluruh mitra memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan.

Digitalisasi juga menghadirkan transparansi dan akuntabilitas yang lebih baik dalam hubungan dengan pemasok, sehingga proses pengadaan menjadi lebih cepat, efisien, dan terukur. Di samping itu, manajemen biaya menjadi prioritas utama melalui strategi pembelian skala besar, laporan penghematan, dan pemanfaatan skala ekonomi.

John Riady, CEO Grup Lippo Indonesia, menyampaikan bahwa melalui langkah-langkah tersebut, perusahaan terus memperkuat fondasi pengadaan yang berkelanjutan, transparan, dan adaptif terhadap dinamika bisnis modern, demi mewujudkan ekosistem rantai pasok yang tangguh dan bertanggung jawab.

Tentang PT Lippo Karawaci Tbk

Tercatat di Bursa Efek Indonesia, PT Lippo Karawaci Tbk (“LPKR”) adalah platform real estat dan layanan kesehatan terkemuka di Indonesia, dengan kehadiran di 26 provinsi dan 56 kota di seluruh Indonesia dan total aset sebesar Rp53.7 triliun per 31 Desember 2024. Bisnis inti Perseroan meliputi pengembangan real estat, pengelolaan kawasan, layanan kesehatan, pusat perbelanjaan gaya hidup, dan perhotelan.

Sebagai pengembang real estat dan operator kawasan terkemuka dengan 1.362 ha lahan yang siap dikembangkan, LPKR mengembangkan dan mengelola pengembangan perkotaan terutama di Jawa dan Sulawesi, termasuk kawasan unggulan Lippo Village di Tangerang. Melalui dua anak perusahaan LPKR yang tercatat di bursa, PT Lippo Cikarang Tbk dan PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk, yang masing-masing sahamnya dimiliki Perseroan sebesar 90,65% dan 62,69%, Perseroan juga mengembangkan dan mengelola kawasan Lippo Cikarang di Bekasi dan Tanjung Bunga di Makassar.

Selain itu, LPKR memiliki 29,09% saham PT Siloam International Hospitals Tbk, jaringan rumah sakit swasta terkemuka di Indonesia, dengan 41 rumah sakit dan 73 klinik di 23 provinsi di seluruh Indonesia. Selain layanan kesehatan, Perseroan mengelola 59 mal di seluruh Indonesia, dan memegang 47,29% saham di Lippo Malls Indonesia Retail Trust, REIT yang terdaftar di Singapura dengan aset kelolaan sebesar SGD 1,6 miliar per 31 Desember 2024. Perseroan juga mengoperasikan 10 hotel dengan merek Aryaduta, serta country club dan lapangan golf.

Bagikan ke